MENGENAL MPLAB X IDE + XC8

Yusisukmalia's Blog

awal mula keinginan untuk memakai PIC karena merasa bingung dengan mikrokontroler yang dijual di pasaran dan karena ada tujuan untuk merepair alat alat buatan negara luar.

pengguna mikrokontroler PIC di indonesia masih bisa terhitung, beda dengan pengguna ATMEL,sangat banyak sekali. saya pun ikut ikutan memakai ic buatan ATMEL, mungkin karena kakak  kelas dan para pengajar lebih merekomendasikan ic tersebut, di tambah lagi dengan buku buku mikro kebanyakan lebih menjelaskan ic buatan atmel.

tidak perlu dimasalahkan pemakaian ic mikrokontroler, yang penting kita bisa membuat alat dengan mikrokontroler. kalo kata saya mah “ALAT UING KUMAHA UING”

software untuk membuat source code mikrokontroler PIC, banyak pilihannya. ada yang memakai bahasa C,bahasa basic dan bahasa assembly. terus ada pula yang gratis ada pula yang bayar.

saya sebagai seseorang yang menghargai karya orang lain mengajak para newbie dan para dedengkot untuk memakai MPLAB X IDE + XC 8 dipastikan gratis.

untuk memulai project ikuti langkah langkah…

Lihat pos aslinya 382 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pengenalan dan Fungsi Fasilitas pada Mixer Audio

IMG-20110618-00217.jpg
Pengenalan Mixer Sound System – Mixer (Audio) adalah sebuah peralatan sound sistem untuk mencampur 2 (dua) atau lebih Channel Audio Input menjadi satu kesatuan sistim penyuaraan. Dalam penggunaan yang professional, orang tehnik menyebutnya Profesional Audio Desk Mixing Console, kadang ada yang menyebutnya mixer audio, dan ada juga yang menyebutnya FOH Mixer. Di sini kita dapat mengetahui pengenalan dasar tentang apa mixer audio itu. Tak hanya itu, anda dapat mengetahui fungsi dari tombol-tombol dan connector yang terdapat pada panel peralatan ini.
Pengenalan Mixer Sound System

A. Pengenalan Mixer Sound System

Dalam sound system khususnya sebuah Mixer Audio terdapat urutan kolom yang berderet dari atas sampai bawah yang disebut Channel. Yang paling atas terdapat Jack Input berupa XLR Female dan TRS (Phone Jack). XLR berfungsi untuk menancapkan Jack Microphone / Audio Input *. (Ada tanda bintang * nanti kita bahas di bawah ini). Dilanjutkan pada urutan kedua adalah Gain Sensitive, Treble (Level), Midle( Level), Midle Frequency, Low Freq., Low(Level), AUX 1, AUX 2, Panpot (Balance Center) dan Volume (Level) yang berbentuk ‘Potensiometer Geser’. Rata-rata pabrik membuat Mixer Audio ini terdapat minimal 4 Channel Mic Input (XLR Jack) namun ada juga yang 12CH, 16CH, 24CH, 32CH, 48CH, 60 Channel. Kadang perangkat ini dilengkapi juga dengan 1 atau 2 Channel Stereo untuk input device yang berasal dari VCD, Laptop, Keyboard dan lainnya. Fasilitas Switch/ Saklar Per Channel terdapat  Tombol LPF, Tombol Mute (ON/OFF), saklar Switch Audio to SUB/ Main Output. Sound Operator yang sudah berpengalaman kadang menggunakan Audio Mixer Digital, fungsinya sama namun pengaturan menggunakan Sistem MENU Displaying, bukan dengan cara manual yang harus memutar tombol secara nyata (Real). Mixer yang kita bahas kali ini adalah mengenal dan mengatur sistim kerja Mixer Audio Konvensional yang umum digunakan oleh khalayak Sound-man.

B. Fungsi Tombol-tombol dan Connector (Jack) pada Mixer Audio

Pengenalan dan fungsi tombol pemutar pada Mixer Sound System. Kondisi susunan tombol masing-masing pabrik kadang berbeda-beda. Pada tombol-tombol pemutar dan juga konektor terdapat tulisan dan skala yang berguna sebagai penuntun untuk mengatur settingan bunyi dan arah I/O koneksi antar peralatan sound sistem lainnya lewat jalur connector. Step by step akan coba kita bahas di bawah ini.

1. Input Channel Jack

Pengenalan dan Fungsi Fasilitas yang Tersedia pada Mixer Audio
Input Jack Channel. Dalam input Channel ini terdapat Jack XLR Female dan Jack Phone TRS. Fungsi dan koneksinya sama yaitu untuk menghubungkan input masukan dari Microphone. Kadang dalam Mixer Profesional terdapat Jack I/O Insert ** (nanti kita bahas). Dalam bintang yang saya cantumkan di atas bahwa kita juga bisa mengkoneksi input audio dalam Jack XLR/ TRS channel input ini dengan fungsi audio Input dari VCD atau Keyboard, kecuali Wireless Microphone. Namun harus hati-hati dalam mengoperasikan input ini pada Channel Jack XLR karena Gain Input untuk masukan di CHANNEL MIC memiliki Range OP Amp yang hanya menangkap getaran sinyal Audio tanpa penguatan (di atas 0dB standar). Jadi untuk menancapkan Audio dari musik Keyboard di jalur koneksi ini harus mengecilkan ‘Gain Sensitive’ paling minimal atau paling tidak pada angka 0 dB meter (lihat display). Untuk mengetahui tentang Jack ini coba buka link yang berhubungan.

2. Tombol LOW Cut Switch

Tombol Low Cut ini berupa saklar On/ Off, berfungi untuk memangkas sinyal yang mengandung unsur nada rendah (HPF : High Pass Filter). Bila dalam box tertulis 100Hz ini berarti alat ini untuk memfilter lalu memotong sinyal nada di bawah frekuensi 100 Hz, atau ada juga yang 80Hz. Penggunaan tombol ini bisa kita fungsikan untuk mengurangi  tekanan suara pada hembusan angin dari mulut penggunaan Microphone. Ada baiknya tidak menghidupkan saklar ini pada mode musik di channel yang kita colok.
Pengenalan dan Fungsi Fasilitas yang Tersedia pada Mixer Audio
Low cut 100Hz dibawah tombol Gain

3. Tombol Gain Sensitive (Gain Sens)

Gain Sensitive berfungsi untuk meyesuaikan kepekaan dan kekuatan input Source. Pada input yang belum atau tanpa penguatan, misalnya dari Microphone dan Spul Gitar posisi Gain Sensitive akan melaju ke arah kanan dalam satuan dBu. Gain Sens akan memberikan space penguatan yang cukup lebar pada tingkat depan Pre Amp Mixer. Pada pengaturan penguatan berupa Keyboard, VCD Player atau Komputer maka kita harus menset Gain Sensitive harus dibawah 0 dBu utnuk menghindari Overload Level pada penguatan akhir Mixer, sehingga suara yang kita dengar akan kacau (tidak HIFI) bila melebihi level di atas 0 dB.
Pengenalan dan Fungsi Fasilitas yang Tersedia pada Mixer Audio

4. Tombol EQ High

Tombol EQ High untuk mengatur level pada kepekaan lebar frekuensi nada tinggi. Anda dapat mengatur nada suara yang anda inginkan pada nada tinggi. Memutar ke arah kanan akan memperkuat level nada tinggi, namun usahakan untuk tidak menguatkan Level ini terlalu tinggi karena dapat berakibat Horn Driver anda akan mudah rusak (Over Load). Pada posisi tengah merupakan setting default yang telah dikalibrasi oleh pabrik pembuat.

5. Tombol EQ Middle

Tombol EQ Middle berfungsi untuk mengatur kepekaan lebar frekuensi menengah. Anda dapat mengatur nada suara menengah yang anda inginkan pada  nada middle. Memutar ke arah kanan akan memperkuat level nada middle. Pada posisi tengah merupakan setting default yang telah dikalibrasi oleh pabrik pembuat.

6. Tombol  Middle  Freq

Tombol Mid Frequency berfungsi untuk mengatur range bandwidth frekuensi middle. Frekuensi khusus nada middle yang anda inginkan dapat diatur di tombol ini. pada mixer dari produk lain kadang bertulis MF artinya Middle Frequency. Knob ini bekerja saling mendukung dengan tombol knob Mid EQ. Anda dapat merasakan perubahan suara bila memutar knob MF ini bila tombol Mid tidak berada di posisi default (tengah). aturlah menurut selera telinga anda.

7. Tombol EQ Low

Untuk mengatur level kepekaan lebar frekuensi rendah atau nada bass. Memutar ke arah kanan akan memperkuat level nada Low. Pada posisi arah jam 12 merupakan setting default yang telah dikalibrasi oleh pabrik pembuat.

8. Tombol Level AUX 1 (Send)

9. Tombol Level AUX 2 (Send)

Tombol pemutar Aux 1 dan Aux 2 berfungsi untuk mengirimkan keluaran (output) pada device yang anda inginkan, misalkan anda dapat mengirimkan effek (FX) eksternal atau mengirim sistim penyuaraan lain, misalkan Monitor Speaker Control. Perlu anda ketahui bahwa tombol Aux ini berhubungan dengan Connector AUX pada bagian output. Memutar ke arah kanan akan memberikan sinyal output pada Jack Aux. AUX bisa difungsikan menjadi bermacam kegunaan, misalnya untuk mengirimkan sinyal ke speaker monitor (dalam hal ini sebagai control Speaker monitor). Fungsi AUX lainnya sebagai pengirim sinyal audio untuk FX suara. Anda dapat pula memfungsikan AUX untuk pengiriman sinyal kepada perangkat Audio yang lain (Mixer yang lain). Untuk recording bisa juga melalui saluran AUX ini.

10. Tombol FX Send (Pengiriman Penyuaran Efek)

FX Send berada tak jauh dari tombol Aux dan memiliki fungsi yang mirip dengan tombol AUX. Tombol ini berguna untuk mengirimkan level sinyal untuk menampilkan tinggi dan rendahnya suara effek (FX) internal di Mixer ini. Anda dapat membesarkan atau mengecilkan kepekaan DRY atau WET pada sistim master Mixer. Untuk lebih mengetahui cara memproses pengiriman Effect dan Aux coba lihat yang ini.

11. Tombol Saklar PFL (Pre Fade Listening)

Tombol Saklar PFL ini berfungi untuk mengetahui dimana posisi Channel yang mendapat informasi bunyi yang aktif saat terdengar di Speaker. Biasanya PFL akan terkoneksi ke Display LED atau Phone Output di Headphone. Pada sebagian mixer nama PFL kadang ditulis dengan ‘SOLO’.
Pengenalan dan Fungsi Fasilitas yang Tersedia pada Mixer Audio
PAN, SOLO PLF

12. Tombol Pan (Panpot)

Tombol Panpot sama dengan fungsi Balance, yaitu untuk menyetel ke arah mana suara akan anda tempatkan, apakah di posisi Left (kiri) atau Right (kanan). Kontrol ini akan mengatur besarnya sinyal saluran melewati Mix jalur kiri dan kanan, ini memungkinkan Anda untuk menggeser sumber suara pada posisi stereo. Bila kontrol diputar penuh ke kiri atau kanan maka output gain sinyal akan melewati pada bagian Kiri atau Kanan saja.

13. Tombol Saklar SUB/ MAIN

Tombol Sub/ Main ini berfungsi untuk menempatkan ke arah mana output suara akan didistribusikan, apakah ke MAIN untuk jalur Amplifier (Speaker) Utama atau ke SUB Amplifier (Speaker). Bisa jadi SUB Out speaker anda fungsikan sebagai Monitor speaker.

14. Tombol Channel Level Control (Volume Cannel)

Tombol Level Control Channel berfungsi untuk membesarkan dan mengecilkan audio level pada channel.. Tombol pada Mixer Console professional biasanya berbentuk Volume Geser (Slider) yang didalamnya menggunakan komponen elektronik berupa Potensiometer geser (Variable Resistor geser)

15. Tombol Main Master Level Control

Tombol MAIN Master ini (MAIN MIX) berfungsi untuk membesarkan dan mengecilkan keseluruhan suara dari seluruh pencampuran channel yang aktif yang terhubung ke Main Output Speaker. Main output akan terhubung Amplifier dan ke speaker yang terpasang pada perangkat sound system anda.

Main Mix pada Mixer berfungsi sebagai pencampur atau penjumlah seluruh channel yang ada pada Mixer Consule. Dalam Volume Level Main Mix ini terdapat skala ∞, -30, -20, -10, 0, 3, 6, 10 dB (skala tergantung produk). Ada baiknya anda menempatkan Slider geser ini pada posisi 0 dB untuk mendapatkan suara yang standar dan aman pada speaker.

Pengenalan dan Fungsi Fasilitas yang Tersedia pada Mixer Audio

16. LED Displaying Meter Indicator

Fungsi LED display meter indicator adalah untuk menunjukkan posisi kekuatan sinyal suara baik pada posisi Master MAIN Output secara keseluruhan, bisa juga melihat intenitas audio channel secara natural saat kita menekan tombol PFL, displaying ini pada satuan dBu. Mohon diperhatikan bahwa saat lampu menyala pada warna kuning atau merah karena posisi ini maka kekuatan sinyal akan memberikan desakan input yang berlebihan pada Power Amplifier yang nantinya akan berakibat kurang baik pada Speaker anda.

Bagi saya, LED display indicator ini sangat berperan dalam pensettingan sound system, boleh dibilang “mendengar dengan mata”.

17. PHONE Jack

Jack Phones atau Headphones berfungsi untuk menancapkan perangkat Headphone (bisa juga handset) pada telinga anda. Untuk membesarkan dan mengecilkan suara pada Headphone dapat diatur melalui Volume yang bertuliskan Phone Level atau Phone Vol (volume) yang terdekat dengan jack tersebut. Headphone yang kita pakai nantinya akan berfungsi untuk memantau kadar level suara, nada atau frekuensi bunyi yang lebih detail pada pendengaran anda. Anda juga dapat memantau channel input yang sedang aktif dengan menekan fungsi tombol FPL. Bila kita memasang banyak input pada mixer, misalnya mikrophone, lalu ada pembicara (penyanyi) pada salah satu mikrophone sedangkan suaranya perlu untuk dibesarkan, namun kita terkadang bingung dimana posisi channel mikrophone yang dipegangnya berada, maka fungsi headphone sangat membantu kondisi ini dengan cara tekan tombol PFL masing-masing channel sampai didapati suara pada phone di telinga anda. Coba anda lihat nomor 11 di atas.

18. Jack Rec Output

Jack Record output berfungsi untuk menyalurkan sinyal pada peralatan rekam. Alat perekam bisa berupa tape corder dengan cara menekan tombol Rec pada Player recording. Pada era modern penggunaan recording sudah menggunakan komputer atau laptop, proses rekaman dengan menggunakan program aplikasi untuk recording.
Perlu pengetahuan khusus dalam menerapakan recording menggunan Rec out, kita harus memahami ratio faktor penguatan (Gain) dalam satuan dB. Perbandingan output yang terlalu tinggi berakibat overload pada hasil rekaman.

19. Jack Insert

Ada yang terlupakan untuk membasa fungsi Jack Insert ini. Insert berada di bawah Jack Line In. Fungsi Insert adalah untuk mengirimkan sinyal pada peralatan tertentu (misalnya Compressor dan Limitter) dan kemudian menerima kembali hasil olahan sinyal tersebut hanya pada channel yang ditancapkan saja. Jack yang digunakan adalah TRS Jack dengan Unbalance. Perlu pengetahuan khusus dalam menginstalasi bagian ini. Suatu saat akan saya bahas mengenai Setting Insert ini.

Penutup

Semoga memberi manfaat bagi anda yang ingin berkecimpung dalam dunia sound system. Mudah-mudahan anda dapat belajar banyak tentang Pengenalan Dasar dan Fungsi Mixer Sound System dari tulisan saya di atas. Untuk lebih mengetahui tentang dasar-dasar sound system coba anda buka artikel saya yang pertama tentang apa itu sound system.
Baca rubrik lain tentang pengenalan sound system.
Terimakasih anda telah menyimak tulisan ini.

sumber:
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

I2C Serial EEPROM Copier

I2C Serial EEPROM Copier
OLeh Budhy Sutanto

Serial EEPROM kini banyak dipakai dalam peralatan elektronik konsumer, kalau sampai isinya kacau alat elektronik itu tidak bisa bekerja lagi, diganti dengan IC baru pun tidak berguna kalau IC baru itu belum diisi dengan alat ini.

Alat ini merupakan contoh pemakaian microcontroller yang sangat khas, meskipun prinsipnya sangat sederhana tapi hampir tidak mungkin dibuat dengan rangkaian digital biasa tanpa menggunakan microcontroller.

Serial EEPROM jenis I2C merupakan jenis yang banyak dipakai, hal ini disebabkan hubungan ke IC ini hanya memerlukan dua saluran, sedangkan Serial EEPROM jenis lain (MicroWire maupun SPI) memerlukan tiga saluran untuk berhubungan dengan pengendalinya. Dari sisi perangkat keras, sistem I2C memang benar-benar tidak banyak tuntutannya, bahkan jika dalam suatu sistem dipasang beberapa Serial EEPROM jenis I2C, hubungan antara pengendali ke IC-IC tersebut tetap sama, data disalurkan lewat SDA dan didorong denga clock yang ada di SCK.

Kemudahan ini di-‘bayar’ dengan tata cara komunikasi data antar IC yang cukup rumit, tata cara tersebut tidak sulit dipenuhi dengan teknik pemrograman, tapi betul-betul memerlukan upaya tidak kecil kalau ingin diselesaikan dengan rangkaian digital biasa tanpa memakai microcontroller.

IC SEEPROM jenis I2C
IC Serial EEPROM jenis I2C butan Atmel diproduksi dengan kode AT24Cxx, AT merupakan kode pabrik Atmel, 24 menandakan bahwa IC tersebut adalah Serial EEPROM, sedangkan xx merupakan angka yang mengindikasikan kapasitas Serial EEPROM itu dalam satuan KiloBit, sebagai contoh AT24C08 merupakan IC SEEPROM I2C berkapasitas 8 KiloBit (1 KiloByte).

Keluarga AT24Cxx terdiri dari 9 macam IC seperti terlihat di Gambar 1(b), kesembilan IC itu berbeda kapasitas, tapi mempunyai susunan kaki IC yang sama, seperti terlihat pada Gambar 1 (a).

Kaki SDA (kaki nomor 5) dan kaki SCK (kaki nomor 6) merupakan kaki standard IC jenis I2C, kedua kaki inilah yang mebentuk I2C Bus. Kaki nomor 7 (WP – Write Protect) merupakan kaki yang dipakai untuk melindungi isi yang disimpan di dalam IC Serial EEPROM bersangkutan, jika kaki ini diberi tegangan ‘1’ maka IC ini dalam keadaan ter-proteksi, isinya tidak dapat diganti. Agar bisa menuliskan informasi ke dalam IC ini, kaki ini harus diberi tegangan ‘0’.

Kaki nomor 1 sampai dengan nomor 3 (A0, A1 dan A2) merupakan fasilitas untuk penomoran chip, hal ini diperlukan kalau dalam satu rangkaian dipakai lebih dari satu IC SEEPROM sejenis.

Misalnya dalam satu rangkaian dipakai 3 chip AT24C02, SDA dan SCK ketiga IC ini masing-masing dihubungkan jadi satu membentuk I2C Bus, agar ketiga IC ini bisa dipakai secara terpisah pada chip pertama kaki nomor 1 sampai nomor 3 disusun menjadi A0=’0’ A1=’0’ dan A2=’0’ (sebagai Chip nomor 1), chip kedua disusun A0=’1’ A1=’0’ dan A2=’0’ (sebagai Chip nomor 2), chip ketiga disusun A0=’0’ A1=’1’ dan A2=’0’ (sebagai Chip nomor 1).

Meskipun demikian, A0 A1 dan A2 tidak selalu ada pada semua IC anggota AT24Cxx, akibatnya jumlah IC yang boleh dipasang pada I2C Bus tidak sama, gambar 1(b) memperlihatkan distribusi A0,A1 dan A2 pada masing-masing IC dan jumlah IC maksimal yang dapat dipakai bersama.

gb1a

Mengalamati SEEPROM jenis I2C
Karena IC I2C hanya dikendalikan lewat kaki SDA dan SCK saja, tidak ada sarana lainnya dari microcontroler yang bisa dipakai untuk mengendalikan I2C, maka alamat yang dipakai untuk memilih isi IC I2C dikirimkan secara serial pula, persis seperti halnya pengiriman data.

Pengalamat IC I2C secara dasar dilakukan dengan Nomor Group dan Nomor Chip. Nomor Group adalah nomor yang diberikan oleh Philips (sebagai pencipta I2C) pada kelompok-kelompok IC I2C, sebagai contoh nomor group untuk Serial EEPROM adalah 1010 (biner). Nomor Chip adalah nomor yang diberikan pada masing-masing chip lewat kaki A0,A1 dan A2 dari masing-masing IC.

Byte pertama yang dikirim setelah master I2C mengirimkan sinyal START berisi nomor Group; nomor Chip dan 1 bit lagi yang dipakai untuk memberi tahu slave I2C arah data yang dikehendaki, apakah master akan mengirim data atau master menghendaki kiriman data. Hal ini digambarkan dibagian kiri Gambar 2.

Jika kapasitas data dalam IC I2C lebih dari 8 byte, maka fasilitas alamat yang dibicarakan diatas tidak akan mencukupi, dalam hal ini pada kiriman data byte kedua dikirimkan 8 bit alamat tambahan yang disebut sebagai Nomor Byte. Metode pengalamatan 11 bit ( 8 bit N0..N7 dan 3 bit A0..A2) ini bisa dipakai untuk mengalamati sampai kapasitas 2048 byte, dan dipakai pada AT24C01 sampai AT24C16.

Untuk kapasitas yang lebih besar, Nomor Byte tidak lagi 8 bit tapi dipakai Nomor Byte sebanyak 16 bit, yang dikirimkan pada byte kedua dan byte ketiga setelah sinyal START. Yang memakai cara ini adalah AT24C164, AT24C32 dan AT24C64.

gb2

Gambar 2 Mengalamati SEEPROM

Rangkaian
Rangkaian I2C Serial EEPROM Copier dalam Gambar 3 bisa dipakai untuk meng-copy Serial EEPROM jenis I2C type AT24C01A, AT24C02, AT24C04 dan AT24C08, type yang banyak dijumpai diperalatan elektronik konsumer. Dalam rangkaian ini, kaki A2 dari IC SEEPROM dipakai untuk membedakan SEEPROM sumber (U2-source) dan SEEPROM hasil copy (U3-target). Kaki A2 pada U2 diberi tegangan ‘0’ sedangkan kaki A2 pada U3 diberi tegangan ‘1’, sehingga Nomor Chip U2 adalah 0 dan Nomor Chip U3 adalah 4.

Selain itu untuk melindungi agar jangan sampai isi SEEPROM sumber terhapus, maka kaki WP U2 dihubungkan ke ‘1’, sedangkan kaki WP U3 dihubungkan ‘0’ agar IC ini bisa diisi.

Cara kerja alat ini sangat sederhana, pada saat alat ini belum diberi catu daya, IC SEEPROM yang akan di-copy dipasangkan di U2 dan IC SEEPROM baru yang akan diisi dipasangkan di U3. Begitu diberi catu daya LED langsung nyala sebagai tanda alat siap kerja, proses copy dimulai setelah tombol SW1 ditekan, setelah selesai LED akan padam dan kedua IC SEEPROM bisa diambil setelah catu daya dimatikan.

gb3

Gambar 3 I2C Serial EEPROM Copier

Program pengendali
Tugas utama program dalam AT89C2051 adalah membaca isi SEEPROM sumber dan kemudian menuliskan ke SEEPROM baru. AT89C2051 membaca byte demi byte dari SEEPROM sumber dan ditampung dulu di RAM yang ada didalam chip AT89C2051, setelah terkumpul sebanyak 32 byte hasil bacaan itu dituliskan ke SEEPROM target.

Proses diatas diulang 32 kali, dengan demikian AT24C08 yang kapasitasnya 1024 byte habis ter-copy. Bagi SEEPROM yang lebih kecil dari AT24C08, proses copy ini akan dihentikan begitu AT89C2051 gagal membaca isi SEEPROM sumber, sehingga rangkaian ‘I2C Serial EEPROM Copier’ ini tidak perlu diberi tahu IC SEEPROM type mana yang terpasang.
Copyright (C) anekawarna.890m.com

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Soft-Start Circuit For Power Amplifier

article from : Elliott Sound Products

Soft-Start Circuit For Power Amps
Rod Elliott (ESP)

Please Note: PCBs are available for a modified version of this project.
WARNING: This circuit requires experience with mains wiring. Do not attempt construction unless experienced and capable. Death or serious injury may result from incorrect wiring.

Updates …
PCBs are available for a somewhat modified version of the soft-start project. Rather than the MOSFET switch, the PCB version uses a cheap opamp, and provides power and soft start switching. Full details are available when you purchase the PCB, but the schematic and a brief description is shown below.

The delay time for all circuits shown has been revised. The optimum is around 100ms – sufficient for around 5 full cycles at 50Hz, or 6 cycles at 60Hz. It is also quite alright to run the transformer to around 200-500% of full load current at start-up, and the formulae have been revised for 200%. Without the soft-start, inrush current can be so high as to be limited only by wiring resistance – in excess of 50A is not at all uncommon for 240V transformers.

Introduction

When your monster (or not so monster) power amplifier is switched on, the initial current drawn from the mains is many times that even at full power. There are two main reasons for this, as follows …

Transformers will draw a very heavy current at switch on, until the magnetic flux has stabilised. The effect is worst when power is applied as the AC voltage passes through zero, and is minimised if power is applied at the peak of the AC waveform. This is exactly the opposite to what you might expect
At power on, the filter capacitors are completely discharged, and act as a short circuit for a brief (but possibly destructive) period

These phenomena are well known to manufacturers of very high power amps used in PA and industrial applications, but ‘soft start’ circuits are not commonly used in consumer equipment. Anyone who has a large power amp – especially one that uses a toroidal transformer – will have noticed a momentary dimming of the lights when the amp is powered up. The current drawn is so high that other equipment is affected.

This high inrush current (as it is known) is stressful on many components in your amp, especially …

Fuses – these must be slow-blow, or nuisance fuse blowing will be common
Transformer – the massive current stresses the windings mechanically and electrically. It is not uncommon to hear a diminishing mechanical buzz as the chassis and transformer react to the magnetic stress
Bridge rectifier – this must handle an initial current way beyond the normal, because it is forced to charge empty filter capacitors – these look like a short circuit until a respectable voltage has been reached
Capacitors – the inrush current is many times the ripple current rating of the caps, and stresses the internal electrical connections

It should come as no surprise to learn that the majority of amplifier failures occur at power on (unless the operator does something foolish). This is exactly the same problem that causes your lights at home to ‘blow’ as you turn on the light switch. You rarely see a light bulb fail while you are quietly sitting there reading, it almost always happens at the moment that power is applied. It is exactly the same with power amplifiers.

The circuit presented here is designed to limit inrush current to a safe value, which I have selected as 200% of the full load capacity of the power transformer. Please be aware that there are important safety issues with this design (as with all such circuits) – neglect these at your peril. Up to 500% of full power is quite alright, and the decision as to which value to use is up to you. The transformer manufacturer may have some specific recommendations.

NOTE: Do not attempt this project if you are unwilling to experiment – the relay operation must be 100% reliable, your mains wiring must be to an excellent standard, and some metalwork may be needed. There is nothing trivial about this circuit (or any other circuit designed for the same purpose), despite its apparent simplicity.

Description

Although the soft start circuit can be added to any sized transformer, the winding resistance of 300VA and smaller transformers is generally sufficient to prevent a massive surge current. Use of a soft start circuit is definitely recommended for 500VA and larger transformers.

As an example, a 500VA transformer is fairly typical of many high power domestic systems. Assuming an ideal load (which the rectifier is not, but that is another story), the current drawn from the mains at full power is …

I = VA / V (1) Where VA is the VA rating of the transformer, and V is the mains voltage used

Since I live in a 240V supply country I will use this for my calculations, but they are easy for anyone to do. Using equation 1, we will get the following full power current rating from the mains (neglecting the transformer winding resistance) …

I = 500 / 240 = 2A (close enough)

At a limit of 200% of full power current, this is 4A AC. The resistance is easily calculated using Ohm’s law …

R = V / I (2)

so from this will get …

R = 240 / 4 = 60 Ohms

Not really a standard value, but 3 x 180 Ohm 5W resistors in parallel will do just fine, giving a combined resistance of exactly 60 Ohms. A single 56 Ohm resistor could be used, but the power rating of over 900W (instantaneous) is a little daunting. We don’t need anything like that for normal use, but be aware that this will be the dissipation under certain fault conditions.

To determine the power rating for the ballast resistor, which is 200% of the transformer power rating at full power …

P = V² / R (3)

For this resistance, this would seem to indicate that a 930W resistor is needed (based on the calculated 60 Ohms), a large and expensive component indeed.

In reality, we need no such thing, since the resistor will be in circuit for a brief period – typically around 100ms, and the amp will (hopefully) not be expected to supply significant output power until stabilised. The only thing we need to be careful about is to ensure that the ballast resistor is capable of handling the inrush current. During testing, I managed to split a ceramic resistor in half because it could not take the current – this effect is sometimes referred to as ‘Chenobyling”, after the nuclear disaster in the USSR some years ago, and is best avoided.

It is common for large professional power amps to use a 50W resistor, usually the chassis mounted aluminium bodied types, but these are expensive and not easy for most constructors to get. For the above example, 3 x 5W ceramic resistors in parallel (each resistor being 180 Ohms) will give us what we want, and is comparatively cheap.

For US (and readers in other 110V countries), the resistance works out to be 12 Ohms, so 3 x 33 Ohm 5W resistors should work fine (this gives 11 Ohms – close enough for this type of circuit).

It has been claimed that the resistance should normally be between 10 and 50 ohms, and that higher values (such as those I suggested above) should not be used. I shall leave this to the reader to decide, since there are (IMO) good arguments for both ideas. As always, this is a compromise situation, and different situations call for different approaches.

A 10 ohm resistor is the absolute minimum I would use, and the resistor needs to be selected with care, as the surge current is likely to demolish lesser resistors, especially with a 240V supply. While it is true that as resistance is reduced, the resistance wire is thicker and more tolerant of overload, worst case instantaneous current with 10 ohms is 24A at 240V. This is an instantaneous dissipation of 5,760W, and it will require an extremely robust resistor to withstand this even for short periods. For 120V operation, the peak current will ‘only’ be 12A, reducing the peak dissipation to 1,440W.

In reality, the worst case peak current will never be reached, since there is the transformer winding resistance and mains impedance to be taken into account. On this basis, a reasonable compromise limiting resistor (and the values that I use) will be in the order of 50 Ohms for 240V (3 x 150 ohm/ 5W), or 11 Ohms (3 x 33 ohm/ 5W) for 120V operation. Resistors are wired in parallel. You may decide to use these values rather than calculate the value from the equations above, and it will be found that this will work very well in nearly all cases, and will still allow the fuse to blow in case of a fault.

This is in contrast to the use of higher values, where the fuse will (in all probability) not blow until the relay closes. Although the time period is short, the resistors will get very hot, very quickly.

Another good reason to use a lower value is that some amplifiers have a turn-on behaviour that may cause a relatively heavy current to be drawn for a brief period. These amplifiers may not reach a stable operating point with a high value resistance in series, and may therefore cause a heavy speaker current to flow until full voltage is applied. This is a potentially disastrous situation, and must be avoided at all costs. If your amplifier exhibits this behaviour, then the lower value limiting resistors must be used.

Due to comments from several readers, I have modified the circuit to allow a much faster relay release time. If flaky mains are a ‘feature’ where you live, then I would suggest that you may need to set up a system where the amplifier is switched off if the mains fails for more than a few cycles at a time. The AC supply to a toroidal transformer only has to ‘go missing’ for a few of cycles to cause a substantial inrush current, so care is needed.

Bypass Circuit

Many of the large professional amps use a triac (bi-lateral silicon controlled rectifier), but I intend to use a relay for a number of very good reasons …

Relays are virtually indestructible
They are easy to obtain almost anywhere
Useful isolation is provided so control circuitry is not at mains potential
No RF noise or harmonics of the mains frequency are generated. These are low level, but can be very troublesome to eliminate from triac circuits
No heatsink is needed, eliminating a potential safety hazard should there be an insulation breakdown between triac and heatsink

They will also cause their share of problems, but these are addressed in this project. The worst is providing a suitable coil voltage, allowing commonly available devices to be used in power amps of all sizes and supply voltages.

Figure 1p39-fig1
Figure 1 – Soft-Start Resistors and Relay Contacts

Figure 1 shows how the resistors are connected in series with the supply to the transformer, with the relay contacts short circuiting the resistors when the relay is activated. This circuitry is all at the mains voltage, and must be treated with great respect.

A represents the Active (Live or Hot) lead from the mains switch, and SA is the ‘soft’ Active, and connects to the main power transformer. Do not disconnect or bypass any existing wiring, simply place the resistor pack in series with the existing transformer.

Do not attempt any wiring unless the mains lead is disconnected, and all connections must be made so that accidental contact to finger or chassis is not possible under any circumstance. The resistors may be mounted using an aluminium bracket that shrouds the connections preventing contact. All leads should be kept a safe distance from the chassis and shroud – where this seems impossible, use insulation to prevent any possibility of contact. Constructional notes are shown later in this project. The safety aspect of this project cannot be stressed highly enough !

The relay contacts must be rated for the full mains voltage, and at least the full power current of the amplifier. The use of a relay with 10A contact rating is strongly recommended.

HINT: You can also add a second relay to mute the input until full power is applied. I shall leave it to you to make the necessary adjustments. You will have to add the current for the two relays together, or use separate supply feeds if utilising the existing internal power supply voltage.

Control Circuits

If a 12V supply were to be available in all power amps, this would be very simple, but unfortunately this is rarely the case. Most amps will have DC supplies ranging from +/-25V to about +/-70V, and any attempt to obtain relays for these voltages will be met with failure in the majority of cases.

An auxiliary supply can be added, but this means the addition of a second transformer, which will be quite impossible due to space limitations in some cases. It is still a viable option (and is the safest way to go), and a control circuit using this approach is shown in Figure 2. This is the simplest to implement, but the added cost of the second transformer may be hard to justify. It is pretty much mandatory for Class-A amps though (See Class-A Amplifiers).

Figure 2p39-fig2
Figure 2 – Auxiliary Transformer Control Circuit

This uses simple bridge rectifier, and a small but adequate capacitor. The control circuit uses readily available and low cost components, and can easily be built on Veroboard or similar. All diodes can be 1N4004 or equivalent. Use a transformer with a 9V AC secondary, which will supply close enough to 12 Volts for this circuit. No regulation is needed, and the controller is a simple timer, activating the relay after about 100ms. I have chosen a MOSFET for the switch, since it has a defined turn-on voltage, and requires virtually no gate current. With the component values shown, the relay will activate in about 100 milli-seconds. This can be increased (or decreased) by increasing (decreasing) the value of R1 (27k). The transformer need only be a small one, since current is less than 100mA.

Q1 is used to ensure that power is applied to the relay quickly. When a voltage of 0.65V is sensed across the relay, Q1 turns on, and instantly completes the charging of C2. Without the “snap action”, the circuit will be sluggish, and is not suited to some of the other variations below.

NOTE: C1 should be rated at a minimum of 50V to ensure that the ripple current rating is sufficient to prevent capacitor heating. Be warned that if the cap gets warm (or hot), then its reliability and longevity will be compromised.

It is possible to make the relay release much faster, but at the expense of circuit complexity. A simple logic system could ensure that the circuit was reset with a single AC cycle dropout, but this would be too fast for normal use, and quite unnecessary. C1 (marked with a *) will have to be selected based on the relay. If the value is too small, the relay will chatter or at least buzz, and will probably overheat as well, due to eddy currents in the solid core used in DC relays. The capacitor should be selected based on the value that makes the relay quiet, but still releases quickly enough to prevent high inrush current if there is a momentary interruption to the mains supply. The value shown (470uF) will generally be suitable for most applications.

You might want to consider using a mains switch with an additional set of contacts, so that the second set will short circuit the 12V supply when power is turned off. Make sure that the switch has appropriate ratings, and be sure to mark and insulate all connections. This is not really necessary though.

Where it is not possible to use the transformer for any reason, then the circuit in Figure 3 can be used. This uses a resistor to drop the supply voltage for the relay, and has a simple zener diode regulator to supply the control circuit. The method of determining the resistor values and power for Rx and Ry is shown below.

Figure 3p39-fig3
Figure 3 – Control Circuit Using Existing Supply

WARNING: In the event of an amplifier fault at power-on, the fuse may not blow immediately with this circuit installed, since there may be no power to operate the relay. The current is limited to 200% of that at normal full power, so the fuse may be safe for long enough for it to destroy the resistor(s)! The ballast resistors will overheat very quickly, and if you are lucky they will fail. If you don’t like this idea – USE THE AUXILIARY TRANSFORMER.

I very strongly suggest the auxiliary transformer – it is MUCH safer!

The first calculation is based on the supply voltage, and determines the current available to the zener. This should be about 20mA (it is not too critical). Since the zener is 12V, use the following formula to obtain the value for Rx …

R = (Vcc – 12) / I (4) Where Vcc is the voltage of the main positive supply rail, I is current

Example. The Vcc (the +ve supply rail) is 50V, so …

R = (50 – 12) / 0.02 = 1900 Ohms (1.8k is quite acceptable)

Power may now be determined as follows …

P = (Vcc – 12)² / R (5)

Again, from the example above …

P = (50 – 12)² / 1800 = 38² / 1800 = 1444 / 1800 = 0.8W

A 2W resistor (or two 3k6 1W resistors in parallel) is indicated to allow a safety margin. Where possible, I always recommend that a resistor be at least double the expected power dissipation, to ensure long life and cooler operation. It may be necessary to select different resistor values to obtain standard values – not all calculations will work out as neatly as this. Remember that the 20mA is only approximate, and anything from 15 to 25mA is quite acceptable.

The relay coil limiting resistor (Ry) is worked out in a similar manner, but first you have to know the resistance of the relay coil. This may be obtained from specifications, or measured with a multimeter. I have details of a suitable relay that has a 12V DC coil, and has a claimed resistance of 285 Ohms. Coil current is therefore …

I = Vc / Rc (6) Where Vc is coil voltage and Rc is coil resistance
I = 12 / 285 = 0.042A (42mA)

Using the same supply as before, formula 4 is used to determine the ‘build-out’ resistance …

R = (50 – 12) / 0.042 = 904 Ohms. 1k Ohms will be fine here (less than 10% variation)

Power is determined using equation 5 as before …

P = (50 – 12)² / 1000 = 38² / 1000 = 1444 / 1000 = 1.4W

If the coil current is calculated with the resistor in place, it is found that it is 39mA – this is a variation of about 7%, and is well within the tolerance of a relay. A 5W resistor is indicated, as this has a more than generous safety margin. These resistors will be very much cheaper than a transformer, and require less space. Wasted power is not great, and is probably less than that lost in a transformer due to internal losses (small transformers are not very efficient).

With relays, it is often beneficial to use a power saver circuit, where an initial high current pulse is used to pull the relay in, and a lower holding current is then used to keep it energised. This is very common in relay circuits, and can provide a saving of about 50%. The basic scheme is shown in Figure 4 with some typical values for the relay as mentioned in the text. I have based my assumptions on the relay I have – I tested this part thoroughly, since it is very difficult to make calculations based on an electro-mechanical device such as a relay – there are too many variables. If you want to use this method, then I suggest that some experimentation is in order. Typically, the relay holding current will be between 20% and 50% of the pull-in current – generally at the lower end of the scale.

Figure 4p39-fig4
Figure 4 – Power Saving Relay Circuit

The values shown are those estimated for the 12V 285 Ohm relay – yours will be different! Do not mess about with this method if you are unsure of what you are doing. Failure of the relay to operate will cause the ballast resistors to overheat, with possibly catastrophic results (See below). This method can also be used with Class-A amps, as it is possible to make sure that the relay activates even on the lower voltage present while the ballast resistors are in circuit. (Although I strongly suggest the separate power supply circuit for Class-A, see Class-A Amplifiers, below.)

Notice that the power savings are across the board. The relay feed resistor now will dissipate 0.8W instead of 1.4W, and the auxiliary limiting resistor can be a 0.5W type – instantaneous dissipation is only 0.7W, and that is for a very short time. The feed resistor is now 2k2 instead of 1k, but an extra capacitor and resistor are the price you pay. The capacitor can be used in the circuit of Figure 3 too, and will force a large current at turn on. This will not save any power, but will most certainly ensure that the relay pulls in reliably.

A Few Test Results
The relay I used for testing is a 24V type – this in itself is of little consequence, since it can easily be re-calculated or re-measured for a 12V unit. A coil resistance of 750 Ohms means that at nominal supply voltage the relay draws 32mA. I measured the pull-in current at 23.5mA (typically about 65% of the nominal rating), and drop-out current was 7.5mA, or about 25% of rated current.

Using the 12V relay mentioned above, this would translate to (approximately – these are educated guesses)

Nominal current – 42mA
Pull-in Current – 28mA
Drop-out Current – 10mA

Most (all?) relays will hold in perfectly well at 1/2 rated current, and I would suggest that this is as low as you should go for reliability. If you don’t feel like including it, the resistor in series with the electro can be omitted. Sure this will pulse a 12V relay with 50V, but it won’t care. Personally I suggest that a series limiter be used, calculated to provide an instantaneous current of 150% of the relay’s nominal rating – this will protect the cap from excessive current. For a 12V unit (as above), this would mean a maximum current of 60mA and a holding current of 20mA.

Because of the vast number of variables, I shall leave this to your experimentation – Please do not ask me to calculate the values for you, because I won’t. It is entirely the reader’s responsibility to determine the suitability of this (or any other) project to their individual needs. If in any doubt, use the auxiliary transformer method.

Construction Notes

As described above, electrical safety is paramount with a circuit such as this. Figure 5 shows a suggested method of mounting the input ballast resistors that ensures that the minimum of 5mm creepage and clearance is maintained when the resistors are mounted, and still provides good thermal contact with the case and protection from fingers or other objects coming into contact with the mains.

Figure 5p39-fig5
Figure 5 – Suggested Resistor Mounting

This arrangement may be a little over the top, but feel free to use it if you want to. The aluminium bracket clamps the resistors firmly in position, and the plate above and below (which needs to be 5mm shorter than the resistor bodies) maintain clearance distances. It is imperative that the resistors cannot move in the bracket, and a good smear of heatsink compound will ensure thermal conductivity.

The alternative is to obtain one of the bolt-down aluminium bodied resistors. This is obviously much simpler than making up a bracket. In case you are wondering why all this trouble for resistors that will be in circuit for 100 milliseconds, the reason is safety. The cover will keep fingers away, and stops the resistors moving about. It also provides a measure of safety if the relay does not operate, since dissipation will be very high. Since the resistors will get extremely hot, simply wrapping them in heatshrink tubing will do no good at all because it will melt. The idea is to prevent excessive external temperatures until the resistors (hopefully) fail and go open circuit. The method used with the P39 PCB is simpler again – 3 x 5W resistors are mounted on an auxiliary circuit board. I have yet to see or hear of a resistor failure.

The relay wiring is not critical, but make sure that there is a minimum of 5mm between the mains contacts and any other part of the circuitry. Mains rated cable must be used for all power wiring, and any exposed connection must be shrouded using heatshrink tubing or similar. Keep as much separation as possible between any mains wiring and low voltage or signal wiring.

The connections to the ballast resistors are especially important. Since these may get very hot if the relay fails to operate, care must be taken that the lead will not become disconnected if the solder melts, and that there is sufficient solder to hold everything together and no more. A solder droop could cause a short to chassis, placing you or other users at great risk of electrocution. An alternative is to use a screw-down connector, which must be capable of withstanding high temperature without the body melting.

Do not use heatshrink tubing as insulation for the incoming power leads to the ballast resistors. Fibreglass or silicone rubber tube is available from electrical suppliers, and is intended for high temperature operation.

Class-A Amplifiers

NOTE: I strongly suggest that the auxiliary transformer method is used with a Class-A amp, as this will eliminate any possibility of relay malfunction due to supply voltages not being high enough with the ballast resistors in circuit.

Because of the fact that a Class-A amp runs at full power all the time, if using the existing supply you must not go below the 200% suggested inrush current limit. In some cases, it will be found that even then there is not enough voltage to operate the relay with the input ballast resistors in circuit.

If this is found to be the case, you cannot use this method, or will have to settle for an inrush of perhaps 3-5 times the normal full power rating. This is still considerably less than that otherwise experienced, and will help prolong the life of the supply components, but is less satisfactory. The calculations are made in the same way as above, but some testing is needed to ensure that the relay operates reliably every time. See note, above.

Special Warning

In case you missed this the first time: In the event of an amplifier fault at power-on, the fuse may not blow (or at least, may not blow quickly enough to prevent damage) with this circuit installed, since there may be no power to operate the relay. If you don’t like this idea – USE THE AUXILIARY TRANSFORMER. The fuse might only blow after the relay closes, but at least it will blow. 100ms is not too long to wait.

This circuit by its very nature is designed to limit the maximum current at power on. If there is no power to operate the relay, the ballast resistors will absorb the full mains voltage, so for my example above will dissipate over 900W! The resistors will fail, but how long will they last? The answer to this is a complete unknown (but “not long” is a good guess).

The reliability of the relay circuit is paramount. If it fails, the ballast resistor dissipation will be very high indeed, and will lead to it overheating and possibly causing damage. The worst thing that can happen is that the solder joints to the resistors will melt, allowing the mains lead to become disconnected and short to the chassis. Alternatively, the solder may droop, and cause a short circuit. If you are lucky, the ballast resistors will fail before a full scale meltdown occurs.

Make sure that the mains connections to the resistors are made as described above (Construction Notes) to avoid any of the very dangerous possibilities. You may need to consult the local regulations in your country for wiring safety to ensure that all legalities are accounted for. If you build a circuit that fails and kills someone, guess who is liable? You!
It is possible to use a thermal switch mounted to the resistor cover to disconnect power if the temperature exceeds a set limit. These devices are available as spare parts for various household appliances, or you may be able to get them from your normal supplier. Although this may appear to be a desirable option, it is probable that the resistors will fail before the thermal switch can operate.

WARNING: The small metal bullet shaped non-resetting thermal fuses have a live case (it is connected to one of the input leads). Use this type with great caution !! Also, be aware that you cannot solder these devices. If you do, the heat from soldering will melt the wax inside the thermal fuse and it will be open circuit. Connections should use crimped or screw terminals.

PCB Version

The circuit diagram for the PCB version of this project is shown below. It uses a small transformer, and mains switching is only required for the small transformer, and the circuit takes care of the rest. The relays have a standard footprint, and should be available (almost) everywhere.

Figure 6p39-f6
Figure 6 – PCB Version of Soft Start/ Mains Switch

A 9V transformer is needed, having a rating of around 5VA. The DC output is close to 12V, and will activate the relays reliably. The circuit has a reasonably fast drop-out and stable and very predictable timing (approx 100ms). The PCB has space for 3 x 5W resistors, and the circuit has been used on a 500VA transformer with great success. The other comments above still apply (of course), but this circuit simplified the construction process considerably.

Index Projects Index
ESP Home Main Index

Copyright Notice. This article, including but not limited to all text and diagrams, is the intellectual property of Rod Elliott, and is Copyright (c) 1999.

Dipublikasi di elektronika | Meninggalkan komentar

Using AT Command Tester with Arduino boards

AT Commands tester can be used with Arduino GPRS or 3G shields. The arduino board with the GPRS shield is connected to the computer through a USB cable.

Arduino Uno

Generally the processor on the arduino board will connect to the GPRS modem. In order to use the AT Command Tester, the computer should connect to the GPRS modem through the arduino’s USB interface. The following sketch will set that up on the Arduino Uno boards.Download the sketch through the Arduino IDE. Please verify the baud rate setting in the sketch.

—————————————————————————————————————————
//Serial Relay – Arduino will patch a
//serial link between the computer and the GPRS Shield
//at 19200 bps 8-N-1
//Computer is connected to Hardware UART
//GPRS Shield is connected to the Software UART

#include

SoftwareSerial mySerial(2,3);

void setup()
{
Serial.begin(19200);
//Serial.println(“Begin”);
mySerial.begin(19200);

}

void loop()
{
if (mySerial.available())
Serial.write(mySerial.read());
if (Serial.available())
mySerial.write(Serial.read());

}

Arduino Leonardo, Arduino Mega 2560, Auduino Mega ADK

Use the following sketch for other Arduino  boards. Please check the baud rate of the modem shield.

—————————————————————————————————————————
//Serial Relay – Arduino will patch a
//serial link between the computer and the GPRS Shield
//at 19200 bps 8-N-1
//Computer is connected to Hardware UART
//GPRS Shield is connected to the Software UART

#include

SoftwareSerial mySerial(10,11);

void setup()
{
Serial.begin(19200);

while (!Serial) {
; // wait for serial port to connect. Needed for Leonardo only
}
//Serial.println(“Begin”);
mySerial.begin(19200);

}

void loop()
{
if (mySerial.available())
Serial.write(mySerial.read());
if (Serial.available())
mySerial.write(Serial.read());

}

source http://m2msupport.net/m2msupport/using-at-command-tester-with-arduino-boards/

Dipublikasi di elektronika, gsm modem | Meninggalkan komentar

Pemrograman arduino

Pemrograman arduino
Baiklah kita akan bahas bahasa pemrogramannya, seperti bahasa pemrograman tingkat menegah pada umumnya arduino pun sama memiliki alur algoritma yang mirip yang beda adalah cara penulisan sintaknya.
structure pemrograman
structure
Structure dasar dari bahasa pemrograman arduino itu sederhana hanya terdiri dari dua bagian.
void setup( )
{
// Statement;
}

void loop( )
{
// Statement;
}
Dimana setup( ) bagian untuk inisialisasi yang hanya dijalankan sekali di awal program, sedangkan loop() untuk mengeksekusi bagian program yang akan dijalankan berulang-ulang untuk selamanya.
setup()
Fungsi setup() hanya di panggil satu kali ketika program pertama kali di jalankan. Ini digunakan untuk pendefinisian mode pin atau memulai komunikasi serial. Fungsi setup() harus di ikut sertakan dalam program walaupun tidak ada statement yang di jalankan.
void setup()
{
pinMode(13,OUTPUT); // mengset ‘pin’ 13 sebagai output
}
loop
Setelah melakukan fungsi setup() maka secara langsung akan melakukan fungsi loop() secara berurutan dan melakukan instruksi-instruksi yang ada dalam fungsi loop().
void loop()
{
digitalWrite(13, HIGH); // nyalakan ‘pin’ 13
delay(1000); // pause selama 1 detik
digitalWrite(13, LOW); // matikan ‘pin’ 13
delay(1000); /// pause selama 1 detik
}
function
Function (fungsi) adalah blok pemrograman yang mempunyai nama dan mempunyai statement yang akan di eksekusi ketika function di panggil. Fungsi void setup() dan void loop() telah di bahas di atas dan pembuatan fungsi yang lain akan di bahas selanjutnya.
Cara pendeklarasian function
type functionName(parameters)
{
// Statement;
}
Contoh:
int delayVal()
{
int v; // membuat variable ‘v’ bertipe integer
v = analogRead(pot); // baca harga potentiometer
v /= 4; // konversi 0-1023 ke 0-255
return v; // return nilai v
}
Pada contoh di atas fungsi tersebut memiliki nilai balik int (integer), karena kalau tidak menghendaki adanya nilai balik maka type function harus void.
{ } curly braces
Curly brace mendefinisikan awal dan akhir dari sebuah blok fungsi. Apabila ketika memprogram dan progremer lupa memberi curly brace tutup maka ketika di compile akan terdapat laporan error.
; semicolon
Semicolon harus di berikan pada setiap statement program yang kita buat ini merupakan pembatas setiap statement program yang di buat.
/*…*/ blok comment
Semua statement yang di tulis dalam block comments tidak akan di eksekusi dan tidak akan di compile sehingga tidak mempengaruhi besar program yang di buat untuk di masukan dalam board arduino.
// line comment
Sama halnya dengan block comments, line coments pun sama hanya saja yang di jadikan komen adalh perbaris.
Variable
Variable adalah sebuah penyimpan nilai yang dapat di gunakan dalam program. Variable dapat di rubah sesuai dengan instruksi yang kita buat. Ketika mendeklarisikan variable harus di ikut sertakan type variable serta nilai awal variable.
Type variableName = 0;
Contoh
Int inputVariable = 0; // mendefinisikan sebuah variable bernama inputVariable dengan nilai awal 0
inputVariable = analogRead(2); // menyimpan nilai yang ada di analog pin 2 ke inputVariable
variable scope
sebuah variable dapat di deklarasikan pada awal program sebelum void setup(), secara local di dalam sebuah function, dan terkadang di dalam sebuah block statement pengulangan.
Sebuah variable global hanya satu dan dapat di gunakan pada semua block function dan statement di dalam program. Variable global di deklarasikan pada awal program sebelum fungstion setup().
Sebuah variable local di deklarasikan di setiap block function atau di setiap block statement pengulangan dan hanya dapat di gunakan pada block yang bersangkutan saja.
Contoh penggunaan:
int value; // ‘value’ adalah variable global dan dapat di gunakan pada semua block funtion
void setup()
{
// no setup needed
}

void loop()
{
for (int i=0; i<20;) // 'i' hanya dapat di gunakan dalam pengulangan saja
{
i++;
}
float f; // 'f' sebagai variable local
}
Data type
byte
type byte dapat menyimpan 8-bit nilai angka bilangan asli tanapa koma. Byte memiliki range 0 – 255.
Byte biteVariable = 180; // mendeklarasikan ‘biteVariable’ sebagai type byte
integer
Integer adalah tipe data yang utama untuk menyimpan nilai bilangan bulat tanpa koma. Penyimpanan integer sebesar 16-bit dengan range 32.767 sampai -32.768.
Int integerVariable = 1600; // mendeklarasikan ‘integerVariable’ sebagai type integer
long
Perluasan ukuran untuk long integer, penyimpanan long integer sebesar 32-bit dengan range 2.147.483.647 sampai -2.147.483.648
Long longVariable = 500000; // mendeklarasikan ‘longVariable’ sebagai type long
float
Float adalah tipe data yang dapat menampung nilai decimal, float merupakan penyimpan yang lebih besar dari integer dan dapat menyimpan sebesar 32-bit dengan range 3.4028235E+38 sampai -3.4028235E+38
Float floatVariable = 3.14; // mendeklarasikan ‘floatVariable’ sebagai type float
array
Array adalah kumpulan nilai yang dapat di akses dengan index number, nilai yang terdapat dalam array dapat di panggil dengan cara menuliskan nama array dan index number. Array dengan index 0 merupakan nilai pertama dari array. Array perlu di deklarasikan dan kalau perlu di beri nilai sebelum di gunakan.
Int arraysName[] = {nilai0, nilai1, nilai2 . . . }
Contoh penggunaan array:
Int arraySaya[] = {2,4,6,8,10}
x = arraySaya[5]; // x sekarang sama dengan 10
Operator aritmetic
aritmetic
operator aritmatik terdiri dari penjumlahan, pengurangan, pengkalian, dan pembagian.
y = y + 3;
x = x – 8;
i = i * 5;
r = r / 9;
dalam menggunakan operan aritmatik harus hati-hati dalam menentukan tipe data yang digunakan jangan sampai terjadi overflow range data.
compound assignments
Compound assignments merupakan kombinasi dari aritmatic dengan sebuah variable. Ini biasanya dipakai pada pengulangan.
x ++; // sama seperti x = x + 1 atau menaikan nilai x sebesar 1
x –; // sama seperti x = x – 1 atau mengurangi nilai x sebesar 1
x += y; // sama seperti x = x + y
x -= y; // sama seperti x = x – y
x *= y; // sama seperti x = x * y
x /= y; // sama seperti x = x / y
comparison
Statement ini membadingkan dua variable dan apabila terpenuhi akan bernilai 1 atau true. Statement ini banyak digunakan dalam operator bersyarat.
x == y; // x sama dengan y
x != y; // x tidak sama dengan y
x y; // x lebih besar dari y
x = y; // x lebih besar dari sama dengan y
logic operator
operator logical digunakan untuk membandingkan 2 expresi dan mengembalikan nilai balik benar atau salah tergantung dari operator yang di gunakan. Terdapat 3 operator logical AND,OR, dan NOT, yang biasanya di gunakan pada if statement.
Contoh penggunaan:
Logical AND
If ( x > 0 && x 0 || y > 0) // bernilai benar apabila salah satu dari operator pembanding terpenuhi
Logical NOT
If ( !x > 0 ) // benilai benar apabila ekspresi operator salah
konstanta
Arduino mempunyai beberapa variable yang sudah di kenal yang kita sebut konstanta. Ini membuat memprogram lebih mudah untuk di baca. Konstanta di kelasifikasi berdasarkan group.
true/false
Merupakan konstanta Boolean yang mendifinisikan logic level. False mendifinisikan 0 dan True mendifinisikan 1.
If ( b == TRUE );
{
//doSomething
}
high/low
Konstanta ini mendifinisikan aktifitas pin HIGH atau LOW dan di gunakan ketika membaca dan menulis ke digital pin. HIGH di definisikan sebagai 1 sedangkan LOW sebagai 0.
digitalWrite( 13, HIGH );
input/output
Konstanta ini digunakan dengan fungsi pinMode() untuk mendifinisikam mode pin digital, sebagai input atau output
pinMode( 13, OUTPUT );
Flow control
if
If Operator if mengtest sebuah kondisi seperti nilai analog sudah berada di bawah nilai yang kita kehendaki atau belum, apabila terpenuhi maka akan mengeksekusi baris program yang ada dalam brackets kalau tidak terpenuhi maka akan mengabaikan baris program yang ada dalam brackets.
If ( someVariable ?? value )
{
//DoSomething;
}
if… else
Operator if…else mengtest sebuah kondisi apabila tidak sesuai dengan kondisi yang pertama maka akan mengeksekusi baris program yang ada di else.
If ( inputPin == HIGH )
{
//Laksanakan rencana A;
}
Else
{
//Laksanakan rencana B;
}
for
Operator for digunakan dalam blok pengulangan tertutup.
For ( initialization; condition; expression )
{
//doSomethig;
}
while
Operator while akan terus mengulang baris perintah yang ada dalam bracket sampai ekspresi sebagai kondisi pengulangan benilai salah
While ( someVariable ?? value )
{
//doSomething;
}
do… while
Sama halnya dengan while() hanya saja pada operator Do…while tidak melakukan pengecekan pada awal tapi di akhir, sehingga otomatis akan melakukan satu kali baris perintah walaupun pada awalnya sudah terpenuhi.
Do
{
//doSomething;
}
While ( someVariable ?? value );
Digital I/O
Input / Output Digital pada breadboard arduino ada 14, pengalamatnya 0 – 13, ada saat tertentu I/O 0 dan 1 tidak bisa di gunakan karena di pakai untuk komunikasi serial, sehingga harus hati-hati dalam pengalokasian I/O.
pinMode(pin, mode)
digunakan dalam void setup() untuk mengkonfigurasi pin apakah sebagai Input atau Output. Arduino digital pins secara default di konfigurasi sebagai input sehingga untuk merubahnya harus menggunakan operator pinMode(pin, mode).
pinMode (pin, OUTPUT); // mengset pin sebagai output
digitalWrite(pin, HIGH); // pin sebagai source voltage
digitalRead(pin)
membaca nilai dari pin yang kita kehendaki dengan hasil HIGH atau LOW.
Value = digitalRead(pin); // mengset ‘value’ sama dengan pin
digitalWrite(pin, value)
digunakan untuk mengset pin digital. Pin digital arduino mempunyai 14 ( 0 – 13 ).
digitalWrite ( pin, HIGH ); // set pin to HIGH
Analog I/O
Input / Ouput analog pada breadboard arduino ada 6 pengalamatnya 0 – 5
analogRead(pin)
membaca nilai pin analog yang memiliki resolusi 10-bit. Fungsi ini hanya dapat bekerja pada analog pin (0-5). Hasil dari pembacaan berupa nilai integer dengan range 0 sampai 1023.
Value = analogRead(pin); // mengset ‘value’ sama dengan nilai analog pin
analogWrite(pin, value)
mengirimkan nilai analog pada pin analog.
analogWrite(pin, value); // menulis ke pin analog
Time
delay(ms)
Menghentikan program untuk sesaat sesuai dengan yang di kehendaki, satuanya dalam millisecond.
Delay(1000); // menunggu selama satu detik
millis()
Mengembalikan nilai dalam millisecond dihitung sejak arduino board menyala. Penapungnya harus long integer.
Value = millis(); // set ‘value’ equal to millis()
Math
min(x,y)
Membadingkan 2 variable dan akan mengembalikan nilai yang paling kecil.
value = min(value, 100); // set ‘value’ sebagai nilai yang paling kecil dari kedua nilai
max(x,y)
Max merupakan kebalikan dari min.
value = max(value, 100); //set ‘value’ sebagai nilai yang paling besar dari kedua nilai
Random
randomSeed(seed)
random(min,max)
Serial
Serial.begin(rate)
Statement ini di gunakan untuk mengaktifkan komunikasi serial dan mengset baudrate.
void setup()
{
Serial.begin(9600); //open serial port and set baudrate 9600 bps
}
Serial.prinln(data)
Mengirimkan data ke serial port.
Serial.println(100); // mengirimkan 100

sumber //http://saung.igoscenter.org/Kupas_tuntas_arduino#min.28x.2Cy.29

Dipublikasi di elektronika, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Belajar PLC

PLC (PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER)

Pengertian

Programmable Logic Controllers (PLC) adalah komputer elektronik yang mudah digunakan (user friendly) yang memiliki fungsi kendali untuk berbagai tipe dan tingkat kesulitan yang beraneka ragam [2]. Definisi Programmable Logic Controller menurut Capiel (1982) adalah :sistem elektronik yang beroperasi secara dijital dan didisain untuk pemakaian di lingkungan industri, dimana sistem ini menggunakan memori yang dapat diprogram untuk penyimpanan secara internal instruksi-instruksi yang mengimplementasikan fungsi-fungsi spesifik seperti logika, urutan, perwaktuan, pencacahan dan operasi aritmatik untuk mengontrol mesin atau proses melalui modul-modul I/O dijital maupun analog [3].

Berdasarkan namanya konsep PLC adalah sebagai berikut :

1. Programmable, menunjukkan kemampuan dalam hal memori untuk menyimpan program yang telah dibuat yang dengan mudah diubah-ubah fungsi atau kegunaannya.

2. Logic, menunjukkan kemampuan dalam memproses input secara aritmatik dan logic (ALU), yakni melakukan operasi membandingkan, menjumlahkan, mengalikan, membagi, mengurangi, negasi, AND, OR, dan lain sebagainya.

3. Controller, menunjukkan kemampuan dalam mengontrol dan mengatur proses sehingga menghasilkan output yang diinginkan.

PLC ini dirancang untuk menggantikan suatu rangkaian relay sequensial dalam suatu sistem kontrol. Selain dapat diprogram, alat ini juga dapat dikendalikan, dan dioperasikan oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan di bidang pengoperasian komputer secara khusus. PLC ini memiliki bahasa pemrograman yang mudah dipahami dan dapat dioperasikan bila program yang telah dibuat dengan menggunakan software yang sesuai dengan jenis PLC yang digunakan sudah dimasukkan.Alat ini bekerja berdasarkan input-input yang ada dan tergantung dari keadaan pada suatu waktu tertentu yang kemudian akan meng-ON atau meng-OFF kan output-output. 1 menunjukkan bahwa keadaan yang diharapkan terpenuhi sedangkan 0 berarti keadaan yang diharapkan tidak terpenuhi. PLC juga dapat diterapkan untuk pengendalian sistem yang memiliki output banyak.

Fungsi dan kegunaan PLC sangat luas. Dalam prakteknya PLC dapat dibagi secara umum dan secara khusus [4]. Secara umum fungsi PLC adalah sebagai berikut:

1. Sekuensial Control. PLC memproses input sinyal biner menjadi output yang digunakan untuk keperluan pemrosesan teknik secara berurutan (sekuensial), disini PLC menjaga agar semua step atau langkah dalam proses sekuensial berlangsung dalam urutan yang tepat.

2. Monitoring Plant. PLC secara terus menerus memonitor status suatu sistem (misalnya temperatur, tekanan, tingkat ketinggian) dan mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan proses yang dikontrol (misalnya nilai sudah melebihi batas) atau menampilkan pesan tersebut pada operator.

Sedangkan fungsi PLC secara khusus adalah dapat memberikan input ke CNC (Computerized Numerical Control). Beberapa PLC dapat memberikan input ke CNC untuk kepentingan pemrosesan lebih lanjut. CNC bila dibandingkan dengan PLC mempunyai ketelitian yang lebih tinggi dan lebih mahal harganya. CNC biasanya dipakai untuk proses finishing, membentuk benda kerja, moulding dan sebagainya.

Prinsip kerja sebuah PLC adalah menerima sinyal masukan proses yang dikendalikan lalu melakukan serangkaian instruksi logika terhadap sinyal masukan tersebut sesuai dengan program yang tersimpan dalam memori lalu menghasilkan sinyal keluaran untuk mengendalikan aktuator atau peralatan lainnya.
Keuntungan dan Kerugian PLC [2][5]

Dalam industri-industri yang ada sekarang ini, kehadiran PLC sangat dibutuhkan terutama untuk menggantikan sistem wiring atau pengkabelan yang sebelumnya masih digunakan dalam mengendalikan suatu sistem. Dengan menggunakan PLC akan diperoleh banyak keuntungan diantaranya adalah sebagai berikut:

Ø Fleksibel

Pada masa lalu, tiap perangkat elektronik yang berbeda dikendalikan dengan pengendalinya masing-masing. Misal sepuluh mesin membutuhkan sepuluh pengendali, tetapi kini hanya dengan satu PLC kesepuluh mesin tersebut dapat dijalankan dengan programnya masing-masing.

Ø Perubahan dan pengkoreksian kesalahan sistem lebih mudah

Bila salah satu sistem akan diubah atau dikoreksi maka pengubahannya hanya dilakukan pada program yang terdapat di komputer, dalam waktu yang relatif singkat, setelah itu didownload ke PLC-nya. Apabila tidak menggunakan PLC, misalnya relay maka perubahannya dilakukan dengan cara mengubah pengkabelannya. Cara ini tentunya memakan waktu yang lama.

Ø Jumlah kontak yang banyak

Jumlah kontak yang dimiliki oleh PLC pada masing-masing coil lebih banyak daripada kontak yang dimiliki oleh sebuah relay.

Ø Harganya lebih murah

PLC mampu menyederhanakan banyak pengkabelan dibandingkan dengan sebuah relay. Maka harga dari sebuah PLC lebih murah dibandingkan dengan harga beberapa buah relay yang mampu melakukan pengkabelan dengan jumlah yang sama dengan sebuah PLC. PLC mencakup relay, timers, counters, sequencers, dan berbagai fungsi lainnya.

Ø Pilot running

PLC yang terprogram dapat dijalankan dan dievaluasi terlebih dahulu di kantor atau laboratorium. Programnya dapat ditulis, diuji, diobserbvasi dan dimodifikasi bila memang dibutuhkan dan hal ini menghemat waktu bila dibandingkan dengan sistem relay konvensional yang diuji dengan hasil terbaik di pabrik.

Sumber http://juare97.wordpress.com/2007/10/20/plc-programmable-logic-controller/

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Mengenal mesin CNC

Generasi Mesin CNC

Menurut type pengendalianya, mesin CNC kini sudah memiliki 3 generasi.

Generasi Pertama

Mesin CNC generasi pertama menggunakan sistem servo dengan umpanbalik yang langsung diterima oleh controller. Set point servo menggunakan analog command, sedangkan umpan balik yang diterima controller ada 2 informasi. informasi yang pertama adalah posisi meja yang mana informasi tersebut dihasilkan oleh sensor linear scale atau linear encoder. Informasi yang kedua berupa tegangan analog yang mewakili kecepatan motor axis. Informasi analog ini dihasilkan oleh sebuah tacho generator. Jadi pada mesin CNC lama menggunakan 2 sensor untuk feedbacknya. Servo driver hanya bertugas sebagai amplifier dimana aliran informasi dari controller diubah menjadi aliran energi ke motor.

Mesin Generasi kedua

Mesin Generasi kedua sudah tidak menggunakan linear encoder dan tacho generator lagi sebagai feedback. sedangkan set point yang digunakan adalah pulse dan sign atau step dan direction (sama aja). mesin generasi kedua ini memiliki umpan balik hanya sampai servo driver saja. Pada generasi ini, servo driver bukan hanya menjadi amplifier saja , Namun juga berfungsi sebagai PID controller. MACH 3 termasuk generasi ini.

Mesin CNC generasi ke tiga

Mesin CNC generasi ke Tiga merupakan generasi tercanggih saat ini. komunikasi antara controller dengan driver sudah menggunakan data packet, baik itu menggunakan RTU,TCP,CANopen,Drivecliq,profibus,dan lain lain.

kasus yang terjadi saat ini adalah para modifikator CNC kesulitan untuk mengatasi masalah mengkoneksikan controller generasi kedua dengan servo generasi pertama. Namun ada cara menghubungkan keduanya yaitu dengan PID servo seperti gecko , galil , dll.

PID servo bekerja dengan mendekatkan posisi aktual dengan posisi yang diinginkan program. jadi rangkaian ini menerima step dan direction dari mach3, lalu mengkalkulasi dengan posisi encoder sehingga dia tahu berapa tegangan analog yang akan diberikan ke servo agar posisinya terpenuhi.

diagram diatas menunjukan perbandingan antara system CNC menggunakan PID controller dan CNC clasic generasi pertama yang mana feedback langsung ke PC/controler.

Gambar yang kiri menggunakan PID controller, yang kanan CNC klasik.

Nah kemudian servo jenis apa saja yang dapat menerima Digital command supaya kita tidak perlu menambahkan PID controller?

saya sebutkan saja yang saya tahu.

Yaskawa SGDM

yaskawa type ini mampu menerima analog command maupun digital command. mode pengoperasian dasar ada 3 :
1. speed control mode
2. torque control mode
3. position control mode.
nah dari ketiganya itu bisa dikombinasikan semisal position speed control mode gitu.

GSK TSB

mampu menerima analog command dan digital command.

gta/gats/great

mampu menerima analog maupun digital

Nikidenso(serinya lupa)

analog dan digital bisa diterima

TECO TSTA

yang ini hanya bisa digital command

simodrive
jangan pakai ini,,, hanya untuk analog command saja

TECO ESDA
meskipun sama-sama teco tapi ini khusus buat analog command

simantec
Jangan sampai agan pakai ini kecuali agan bisa komunikasi profibus dan driveCLIQ. karena ini driver generasi 3

mithsubhishi MDS
driver generasi ketiga. sudah pakai fiber optik. ane juga gak tahu metode transfer datanya pakai apa.

HELD&ROSSI
Sudah discontinue sih tapi dulu pernah berjaya di eranya sebagai servo driver generasi ke1.

artikel dari yg punya thread bowosch http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000007953230/hobi-membuat-mesin-cnc-sendiri-diy-cnc/123

Dipublikasi di mekatronik | Meninggalkan komentar

CARA MEREALISASIKAN IDE

Setelah ide kreatif berhasil ditangkap, pekerjaan belum selesai. Pekerjaan besar justru baru dimulai setelah adanya ide kreatif tersebut. Thomas A. Edison mengatakan :”Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan”. Ibarat orang berjalan, mempunyai ide kreatif barulah merupakan langkah pertama dan masih ada 99 langkah selanjutnya yang harus dijalani jika mau sukses. Namun demikian, ide kreatif sangatlah penting karena tidak mungkin ada langkah ke-2 sampai langkah ke-100 jika tidak ada langkah pertama.

Untuk mewujudkan sebuah ide kreatif, perlu usaha keras pantang menyerah. Terutama untuk ide yang rumit, canggih, dan perlu biaya banyak. Adapun kiat-kiat yang dapat dilakukan untuk melancarkan pekerjaan berat tersebut antara lain :

1. Membentuk team kerja
Untuk ide yang sederhana, dapat dikerjakan sendiri tanpa banyak hambatan. Sedangkan untuk ide yang rumit, canggih, dan perlu biaya besar, lebih bijaksana kalau dikerjakan oleh team. Prinsipnya musti win-win solution. Pembagian tugas selayaknya disertai dengan pembagian hasil yang adil. Jika perlu, gunakan konsultan ahli untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang berada di luar kemampuan team. Pengetahuan dan ketrampilan dari masing-masing anggota team hendaknya beraneka macam sehingga saling melengkapi satu sama lain.

2. Membuat rencana kerja
Rencana kerja yang detail dan jelas akan membantu meningkatkan efektifitas dan efisiensi waktu dan sumber daya yang ada. Peran flowchart dan time table sangat membantu untuk menentukan alur tercepat jika ada beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan secara simultan.

3. Mencari dana
Tanpa dana yang cukup, pekerjaan tidak mungkin dapat dilakukan. Dana dapat bersumber dari kantong sendiri atau dari donatur ( sponsor ). Untuk meyakinkan donatur atau sponsor, musti ada dulu team kerja yang solid dan rencana kerja yang baik. Tanpa itu, tidak mungkin ada donatur atu sponsor yang bersedia mengucurkan dananya. Jika dana bersumber dari donatur atau sponsor, perlu diperhatikan perjanjian bagi hasil dan resiko yang adil dan transparan kecuali dana hibah. Hal itu untuk menghindari sengketa di kemudian hari.

4. Kerja keras
Supaya sukses, kita perlu kerja keras dengan mengerahkan segenap kemampuan secara 100 %. Jika tidak, maka kegagalan sudah menghadang di depan mata. Bagian ini sangat berat karena belum ada seorangpun yang berpengalaman membuat alat atau benda yang sedang kita kerjakan. Justru kitalah orang pertama yang akan memiliki pengalaman tersebut.

5. Menjaga semangat kerja
Menjaga agar tetap semangat dalam menghadapi berbagai kesulitan sangatlah penting. Sebelum dan selama bekerja, perlu ditanamkan keyakinan bahwa ide tersebut mungkin untuk diwujudkan. Harapan untuk memperoleh keuntungan ekonomi jika proyek berhasil bukanlah hal yang tabu dan terbukti cukup kuat mempertahankan semangat kerja. Namun yang paling kuat adalah jika kita bisa menikmati pekerjaan tersebut tanpa memikirkan untung ruginya. Pesta kecil untuk merayakan keberhasilan ujicoba komponen atau bagian alat juga dapat membantu memelihara semangat kerja.

6. Evaluasi dan pengujian
Setelah melewati tahap-tahap tertentu yang sudah direncanakan, musti dilakukan evalusi proses dan hasil kerja untuk peningkatan mutu proses pada tahap berikutnya. Pengujian komponen alat juga harus dilakukan secara bertahap begitu komponen tersebut selesai. Dengan cara ini, kegagalan yang tidak perlu dan konyol dapat dicegah.

7. Mengasah gergaji
Ini adalah kiasan untuk sentiasa mempertajam pengetahuan dan ketrampilan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan ketrampilan teknis yang kita kuasai dibandingkan dengan tingkat kecanggihan dan kompleksitas ide kreatif yang akan diwujudkan. Untuk melakukannya perlu usaha keras selama bertahun tahun terutama jika kesenjangannya cukup jauh. Pembentukan team kerja dan penggunaan konsultan dapat membantu mengatasi kesenjangan yang takterjembatani namun perlu tambahan biaya.
Mengasah gergaji tersebut bukan baru dilakukan setelah ada ide, melainkan dilakukan terus-menerus untuk sebanyak mungkin bidang kerja yang sering melingkupi masalah-masalah yang kita minati untuk diteliti. Sebagai contoh, untuk eksperimenter teknologi tepat guna seperti saya, sebaiknya mempelajari mekanika, termofisika, termodinamika, elektronika, listrik dasar, logika, kimia dasar, ekonomi, komputer, gambar teknik, dsb. Jika tidak bisa menguasai sampai mendetail, setidaknya dasar-dasarnya. Adapun ketrampilan yang perlu dikuasai adalah semua skill yang berhubungan dengan pekerjaan kayu, logam, dan bangunan. Jika tidak bisa sampai mahir, setidaknya terampil.

Demikian pengalaman yang dapat saya bagikan kepada para neter dan semoga bermanfaat.

Potongan artikel dari
http://paijo1965.wordpress.com/mencari-ide-kreatif

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

continues ink jet printer

ink jet printer

Apa Continuous inkjet (CIJ)itu?

Salah satu Inkjet generasi teknik bubble drop/defleksi bubble drop dengan metoda-metoda peredaran ulang/sirkulasi atau recycle tinta

Tinta-tinta yang digunakan di penerapan-penerapan CIJ bersifat konduktif,

sebelumnya tinta telah melalui beberapa proses deteksi kekentalan dan pengukuran tekanan.

proses pencetakan karakternya terjadi karena
tinta bertekanan ini di getarkan oleh piezo resonan/tranducer dan keluar melalui lubang kecil berdiameter puluhan micron sehingga tinta yang keluar di dapat berbentuk “titik titik”

yang kemudian tinta yang telah berbentuk titik ini diberikan muatan listrik (proses charging) berukuran millivolt (disinilah sifat tinta harus bersifat konduktif harus bisa di beri muatan listrik)

tidak semua tinta yang berbentuk titik ini di berikan muatan listrik,tergantung dari input pembentukan karakter cetak

setelah proses ini tinta melewati 2 lempengan plat yang di beri muatan listrik ekstra tinggi yang berbeda polaritas positif dan negatif.

tinta yang beda potensial di defleksikan sehingga membentuk karakter cetak dan sebagian tinta yang tidak di defleksikan masuk kembali ke lubang sirkulasi/recycle.

CIJ sangat populer penerapannya pada industri seperti mencetak tanggal kadaluarsa (expire date),kode produksi,barcode printing, Box printing dan labeling product.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar